Bagi sebagian besar siswa, ulangan harian, ujian se-mester atau ujian nasional menjadi sebuah hal besar dan penting yang akan menentukan prestasi mereka di sekolah. Bahkan bagi sebagian anak hal besar tersebut akan berubah menjadi hal yang menakutkan bahkan cenderung dihindari, sedangkan sangat sulit untuk menghindarinya jika ujian menjadi salah satu penentu lulus tidaknya seorang siswa dalam pendidikan-nya. Tak jarang pula, ujian akhirnya dihadapi dengan stress berlebihan yang meng-akibatkan performa anak dalam mengha-dapinya menjadi tidak maksimal.
Sering pula kita temui di lapangan bahwa, anak yang sehari-harinya mendapat nilai baik di sekolah dan memiliki daya tangkap yang bagus menurut gurunya namun hasil ujian atau ulangan justru tidak menggambarkan kemampuan si anak yang sesungguhnya. Penyebab stress atau stressor sebenarnya tidak perlu dianggap menakutkan jika kita memahami apa itu stress dan bagaimana cara mengelolanya. Walaupun definisi stress bagi setiap orang berbeda, namun secara umum stress didefinisikan sebagai pola respon yang ditimbulkan seseorang karena peristiwa atau hal yang mengganggu keseimbangan psikologisnya (Duffy & Atwater, 1990).
Selama ini, stress dianggap selalu memberikan efek negatif terhadap individu- nya namun ternyata ada juga stress yang membawa efek positif bagi individu. Stress yang menimbulkan efek negatif bagi individu disebut distress, yang selalu dialami oleh siswa ketika menghadapi ujian.
Sedangkan stress yang justru bermanfaat untuk individu adalah eustress. Eustress sangat bermanfaat bagi pengembangan diri kita karena ia mem-buat kita menjadi lebih fokus dan waspada, mempersiapkan diri lebih baik, serta sadar pada hal-hal yang masih kurang. Eustresslah yang memicu semangat kita dalam melakukan sesuatu secara baik dan benar (Lubis, 2007). Dalam menghadapi ujian, tipe stress inilah yang lebih dapat berperan penting dalam mempersiapkan kondisi psikologis siswa.
Bagaimana memunculkan eustress tersebut? Di sinilah peran mengelola stress atau yang lebih dikenal dengan stress management. Untuk membantu anak-anak mengelola kondisi psikologisnya ketika akan menghadapi ujian, orang tua dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:
- Tidak berlebihan menekan anak saat belajar adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan agar anak tidak semakin takut dan tegang ketika mempersiapkan ujian. Ini yang disebut dengan meniadakan stressor
- Mengajak anak berpikir: “Ini sulit, tapi mungkin” daripada “Ini mungkin, tapi sulit.”
- Membantu anak untuk berpikir bahwa ujian adalah hal yang penting tapi bukan tidak mungkin dapat dilewati. Pemikiran anak yang berlebihan terhadap ujian adalah salah satu penyebab anak merasa grogi atau tegang sehingga pelajaran yang semula dipahami hilang tiba – tiba saat berada di ruang ujian.
- Berikan dukungan sosial pada anak dan tanamkan pemikiran positif pada anak bahwa ia dapat menghadapi ujian dengan baik tanpa harus merasa khawatir berlebihan.
- Mengajak anak untuk beribadah dan berdoa bersama agar semakin tenang ketika mendekati masa-masa ujian.Ketika waktu belajar pun, orang tua dapat mengajarkan dan melantunkan doa sebelum belajar bersama dengan anak
Anggaplah stress justru sebagai kesempatan untuk menajamkan kompetensi kita mengelola dinamika hidup. Semoga anak-anak kita mampu melewati semua ujian yang akan dihadapi dengan mendapatkan nilai yang sesuai harapan. Amin.
Bila anda membutuhkan konsultasi pendidikan, silahkan kunjungi:
Disusun oleh : M. Imam Ansori, S.Psi.
Koordinator Bimbingan dan Konseling Bimbel Bintang Pelajar
Daftar referensi:
- Duffy, K. G., & Atwater, E. (1990). Psychology for living: Adjustment, growth and behavior today (8th ed.). NY: Pearson
Tidak ada komentar:
Posting Komentar